Jumat, 17 Juni 2016

Sejarah Pengelasan

Tehnik Pengelasan

Sejarah Pengelasan

Berdasarkan penemuan benda-benda sejarah dapat diketahui bahwa teknik penyambungan logam telah diketahui sejak dari zaman prasejarah, misalnya pembrasingan logam paduan emas-tembaga dan pematrian paduan timbal-timah, menurut keterangan yang didapat telah diketahui dan dipraktekkan dalam rentang waktu antara tahun 4000 sampai 3000 S.M (Sebelum Masehi). Sumber energi yang dipergunakan pada waktu itu diduga dihasilkan dari pembakaran kayu atau arang. Berhubung suhu yang diperoleh dengan pembakaran kayu dan arang sangat rendah maka teknik penyambungan ini pada waktu itu tidak dikembangkan lebih lanjut.
Setelah energi listrik dapat dipergunakan dengan mudah, teknologi pengelasan maju dengan pesat sehingga menjadi suatu teknik penyambungan yang mutakhir. Caracara dan teknik-teknik pengelasan yang banyak digunakan pada saat ini seperti las busur, las resistansi listrik, las termit, dan las gas pada umumnya diciptakan pada akhir abad ke 19.
Alat-alat las busur dipakai secara luas setelah alat tersebut digunakan dalam praktek oleh Bernades pada tahun 1885. Dalam penggunaan yang pertama ini bernades memakai elektroda yang dibuat dari batang karbon atau grafit. Dengan mendekatkan elektroda ke logam induk atau logam yang akan dilas berjarak kira-kira 2 mm, maka terjadi busur listrik yang merupakan sumber panas dalam proses pengelasan. Karena panas yang timbul, maka logam pengisi yang terbuat dari logam yang sama dengan logam induk mencair dan mengisi tempat sambungan. Pada tahun 1889, Zerner mengembangkan cara pengelasan busur yang baru dengan menggunakan busur listrik yang dihasilkan oleh dua batang karbon. Dengan cara ini busur yang dihasilkan ditarik ke logam dasar oleh gaya elektromagnet sehingga terjadi semburan busur yang kuat. Slavianoff pada tahun 1892 adalah orang pertama yang menggunakan kawat logam elektroda yang ikut mencair karena panas yang ditimbulkan oleh busur listrik yang terjadi. Dengan penemuan ini maka elektroda selain berfungsi sebagai penghantar dan pembangkit busur listrik juga berfungsi sebagai logam pengisi. Kemudian Kjellberg menemukan bahwa kualitas sambungan las menjadi lebih baik bila kawat elektroda logam yang digunakan dibungkus dengan terak. Penemuan ini adalah permulaan dari penggunaan las busur dengan elektroda terbungkus yang sangat luas penggunaannya pada saat ini.
Di samping penemuan-penemuan oleh Slavianoff dan Kjellberg mengenai las busur dengan elektroda terbungkus, pada tahun 1886 Thomson menciptakan proses las resistansi listrik, Goldschmitt menemukan las termit pada tahun 1895, dan pada tahun 1901 las oksi-asetilen mulai digunakan oleh Fouche dan Piccard. Karena banyaknya cara-cara pengelasan yang diciptakan selama dua dekade sekitar tahun 1900, maka rentang waktu tersebut disebut masa keemasan pertama untuk pengelasan logam. Selama 15 tahun sesudah tahun 1910 tidak ada penemuan-penemuan yang berarti dan baru tahun 1926 mulailah masa keemasan yang kedua dengan ditemukannya las hidrogen atom oleh Lungumir, las busur logam dengan pelindung gas mulia oleh Hobart dan Dener, serta las busur rendam oleh Kennedy pada tahun 1935. Penemuan las busur rendam ini membuka jalan ke arah otomatisasi dalam bidang pengelasan yang dapat memperbaiki kualitas las secara signifikan. Kemudian pada tahun 1936 Wasserman menyusul dengan menemukan cara pembrasingan yang mempunyai kekuatan tinggi.
Pada tahun-tahun berikutnya sampai dengan tahun 1950 tidak terjadi penemuanpenemuan baru. Kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai sampai tahun 1950, telah mempercepat lagi kemajuan bidang las. Karena itu, tahun 1950 dapat dianggap sebagai permulaan masa keemasan ketiga yang masih terus berlangsung sampai sekarang. Selama masa keemasan yang ketiga ini, telah ditemukan cara-cara las baru antara lain las tekan dingin, las listrik terak, las busur dengan pelindung gas CO2, las gesek, las ultrasonik, las sinar elektron, las busur plasma, las laser dan masih banyak jenis lainnya. Belum semua cara pengelasan yang ditemukan telah dipergunakan dalam prakteknya pada saat ini karena sebagian masih memerlukan perbaikan yang mungkin dalam waktu dekat akan menjadi lebih bermanfaat dan dapat menjadi sumbangan yang berharga bagi kemajuan teknologi las.
 Pada tahap permulaan dari pengembangan teknologi las, pengelasan biasanya hanya dipergunakan pada sambungan dan reparasi yang kurang penting. Tetapi melalui pengalaman dan praktek yang banyak dan waktu yang lama, sekarang penggunaan pengelasan dan penggunaan konstruksi las merupakan hal yang umum di semua negara dunia.
Sejarah pemakaiannya dapat ditelusuri dengan melihat hal-hal berikut, pada tahun 1921 telah dibuat kapal laut pertama di dunia yang seluruhnya menggunakan sambungan las. Jembatan kereta api dengan konstruksi baja pertama yang seluruhnya dilas dibuat pada tahun 1927 dan dipasang melintasi sungai Turtle Creek di Pensylvania, Amerika Serikat. Pada tahun yang sama Gedung Sharon yang merupakan gedung besar pertama yang menggunakan rangka baja yang seluruhnya dilas juga didirikan di Amerika Serikat. Suatu hal yang menarik bahwa konstruksi bangunan dengan las seperti yang telah disebutkan, dibangun sekitar tahun 1920 dimana pada saat tersebut juga sedang terjadi laju perkembangan teknologi las yang cepat.
Sekitar tahun1940-an terjadi patah getas pada beberapa jembatan dan kapal yang dilas. Walaupun secara statistik kecelakaan yang ditimbulkan oleh patah getas ini hanya kecil, tetapi memberikan masalah teknik besar yang perlu segera diatasi. Sehubungan dengan usaha pemecahan masalah tersebut banyak hal baru dalam teknologi las yang turut terpecahkan antara lain sifat mampu las dari baja.
Salah satu contoh kasus bangunan yang mengalami patah getas adalah Jembatan Rudersdorf di Jerman yang terbuat dari pelat baja yang dilas. Patahnya jembatan ini disebabkan oleh beberapa retak halus pada daerah pengaruh panas dari sambungan las. Penyelidikan yang dilakukan terhadap patahan ini membuktikan bahwa penyebab utamanya adalah menjalarnya patah getas yang disebabkan oleh adanya cacat las seperti retak halus dan tegangan sisa pada bahan yang terjadi selama pengelasan. Penelitian kemudian menunjukkan bahwa sifat-sifat bahan yang digunakan terutama kepekaan terhadap takik dan retak las memegang peranan utama dalam patah getas. Kelanjutan dari penelitian-penelitian ini menentukan standar cara-cara pengujian seperti uji Charpy dengan takik V, uji rambatan retak, dan cara uji kepekaan retak. Dengan cara-cara pengujian ini maka terbentuklah dasar-dasar pemilihan bahan yang sesuai untuk pengelasan.
Terwujudnya standar-standar teknik dalam pengelasan membantu memperluas lingkup pemakaian sambungan las dan memperbesar ukuran bangunan konstruksi yang dapat dilas. Luasnya lingkup pemakaian sambungan las juga mencakupi dunia permesinan yang salah satunya digunakan pada pengelasan pipa pada plat kondensor. Dengan kemajuan yang telah dicapai sampai saat ini, teknologi las memegang peranan penting dalam masyarakat industri modern

 

Copyright @ 2015